SEJARAH DESA
Berdasarkan lontar yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, bahwa pada abad 1250 Saka, ada Maharsi Agastya yang mempunyai dua istri. Istri pertama bernama Ida Istri Wyati, dan istri kedua bernama Ida Istri Maya. Istri kedua dari Maharsi Agastya sedang mengandung tujuh bulan. Pada peralihan zaman dari masa Kali menuju Kerta, efek peralihan tersebut sangat dirasakan di dalam kediaman beliau yang kemudian memunculkan keinginan Maharsi Agastya untuk kembali pulang ke tanah Jawa bersama dengan istri kedua Ida Istri Maya dengan keadaan kandungan yang akan segera lahir. Perjalanan melangkah ke Barat sambil menahan lapar hingga sampai di lembah ilalang di sebelah barat Desa Dharma Anyar dan Desa Tangkulak. Maharsi Agastya beristirahat sejenak karena sang istri sudah mulai kesakitan. Maharsi dan Ida Istri Maya pun berhenti pada beberapa tempat hingga istri Beliau melahirkan seorang bayi laki-laki dengan mengenakan ganitri dan menggegam bajra. Namun pada dataran tersebut sang bayi merasa kepanasan maka Maharsi meneruskan perjalanan ke Selatan hingga tiba di dataran ilalang dan berhenti sejenak dikarenakan sang anak menangis yang kemudia membuat beliau menancapkan tongkatnya. Tongkat tersebut kemudian tumbuh bercabang dan berdaun hingga menjadi pohon yang disebut Taru Ungu. Ketika pohon tersebut tmbuh besar hingga pohon tersebut
berbunga dan bijinya bersari emas. Kemudian Maharsi bersabdaBerdasarkan lontar yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, bahwa pada abad 1250 Saka, ada Maharsi Agastya yang mempunyai dua istri. Istri pertama bernama Ida Istri Wyati, dan istri kedua bernama Ida Istri Maya. Istri
kedua dari Maharsi Agastya sedang mengandung tujuh bulan. Pada peralihan zaman dari masa Kali menuju Kerta, efek peralihan tersebut sangat dirasakan di dalam kediaman beliau yang kemudian memunculkan keinginan Maharsi Agastya untuk kembali pulang ke tanah Jawa bersama dengan istri kedua Ida Istri Maya dengan keadaan kandungan yang akan segera lahir. Perjalanan melangkah ke Barat sambil menahan lapar hingga sampai di lembah ilalang di sebelah barat Desa Dharma Anyar dan Desa Tangkulak. Maharsi Agastya beristirahat sejenak karena sang istri sudah mulai kesakitan. Maharsi dan Ida Istri Maya pun berhenti pada beberapa tempat hingga istri Beliau melahirkan seorang bayi laki-laki dengan mengenakan ganitri dan menggegam bajra. Namun pada dataran tersebut sang bayi merasa kepanasan maka Maharsi meneruskan perjalanan ke Selatan hingga tida di dataran ilalang dan berhenti sejenak dikarenakan sang anak menangis yang kemudia membuat beliau menancapkan tongkatnya. Tongkat tersebut kemudian tumbuh bercabang dan berdaun hingga menjadi pohon yang
disebut Taru Ungu. Ketika pohon tersebut tmbuh besar hingga pohon tersebut berbunga dan bijinya bersari emas. Kemudian Maharsi bersabda
“Duhai istriku dengarkanlah amanatku ini. Dahulu kala dataran ini bernama Tegal Tajun, tempatnya Bhatara Mahaguru, pada tahun 1250 Saka beliau mencapai kelepasan. Dataran ini sungguh sangat utama. Dikemudian hari dataran ini akan bernama Desa Mas, karena di dataran ini pohon mati pun ditanam maka pohon tersebut akan kembali tumbuh, bahkan bersari sebutir emas. Batang pohon ini merupakan nyawa dan kesejahteraan dari para penghuni Desa Mas”.“Duhai istriku dengarkanlah amanatku ini. Dahulu kala dataran ini bernama Tegal Tajun, tempatnya Bhatara Mahaguru, pada tahun 1250 Saka beliau mencapai kelepasan. Dataran ini sungguh sangat utama. Dikemudian hari dataran ini akan bernama Desa Mas, karena di dataran ini pohon mati pun ditanam maka pohon tersebut akan kembali tumbuh, bahkan bersari sebutir emas. Batang pohon ini merupakan nyawa dan kesejahteraan dari para penghuni Desa Mas”.
Kirim Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin